Tampilkan postingan dengan label Seputar Rembang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Rembang. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Juni 2014

SEHAT SAMBIL BERAMAL




Cah Angon Rembang, Para pendonor darah di kabupaten Rembang  sekarang ini bisa merasakan lebih nyaman saat akan menyumbangkan darah. Palang Merah Indonesia (PMI) Kab. Rembang telah memiliki sebuah bus.

Tak sekadar bus biasa, tetapi di dalamnya lengkap dengan genset, AC pendingin ruangan, dua buah televisi, tempat penyimpanan darah (refrigerator) dua kotak, timbangan darah dan empat unit kursi khusus bagi pendonor darah. 

Jum’at Siang  (27/6/2014), bus yang didominasi warna merah dan putih itu di undang oleh Ikatan Remaja Masjid Asy Syqoh Ulum Semanding (IRMASS) untuk kegiatan donor darah dalam acara menyambut datangnya bulan suci Ramadhan. Kegiatan tersebut di ikuti semua Remaja Masjid dan sebagian masyarakat sekitar lingkungan Masjid.

Acara tersebut dilaksanakan di depan Masjid Asy Syqoh Ulum Semanding Desa Kalipang Kec Sarang Kab Rembang.

Seorang irmas yang ikut donor darah mengaku kaget ternyata PMI Rembang  mempunyai sarana penunjang secanggih ini. Ia sendiri merasa lebih nyaman berada di dalam bus, karena bisa menyumbangkan darah, sambil menikmati musik dari layar televisi.

“Apalagi hawanya dingin, sangat berbeda ketika donor berdesak desakan di dalam ruangan,”katanya.


Widarto, salah satu petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kab. Rembang menuturkan, peralatan cukup lengkap, sehingga memudahkan mobilitas.

“Tidak perlu lagi bongkar muat, seperti dulu ketika akan keliling,”ungkapnya.

Widarto menambahkan, dengan adanya bus, setiap hari petugas PMI. Targetnya, pengumpulan darah bisa meningkat, sehingga tidak kehabisan darah dan sewaktu waktu siap melayani masyarakat yang membutuhkan.

Minggu, 20 April 2014

"SELAMAT HARI KARTINI 2014"





Hai Sobat…..?  lama tidak posting di blog nih… maklum admin lagi sibuk cari sampingan He.. he…

Wah….. tidak terasa besok senin tepatnya 21 April 2014 kita akan mengingat jasa seorang wanita yang dengan gigihnya memperjuangkan hak-hak wanita sebagai mana mestinya. Ibu Kartini atau biasa di sebut RA (Raden Ajeng) Kartini adalah wanita yang patut kita banggakan atas perjuangannya menyamakan kedudukan seorang wanita dengan pria.


Berikut biodata Raden Ajeng Kartini: 



Nama lengkap : Raden Adjeng Kartini
Panggilan : Raden Ayu Kartini
Tempat & Tgl lahir : Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879
Tempat & Tgl meninggal : Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904
Dikenal karena : Emansipasi wanita
Agama : Islam
Pasangan : R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat (Bupati Rembang)

Buat Sobat… yang ingin mengenang jasa pahlawan wanita Nusantara  ibu kartini, silahkan gunakan ucapan selamat hari Kartini dibawah ini untuk sms keteman-teman anda. Selain sms, anda juga bisa menyebar luaskan ucapan / kata-kata penting ini lewat Facebook ataupun jejaring sosial lainnya.


Inilah beberapa Ucapan Selamat Hari Kartini

  1. Selamat hari Kartini untuk seluruh perempuan di Nusantara. Jadilah dian yang tak pernah padam, selalu bersinar dengan kecerdasan yang kamu miliki.
  2. “Selamat Hari Kartini 2014”. Majulah perempuan di Indonesia. Harumkan tanah air. Jangan menjadi orang yang melemah dan diam melihat diskriminasi.
  3. Selamat Hari Kartini untuk ibu, adik, kakak. Semoga para Kartini senantiasa berprestasi selalu dan penuh semangat.
  4. Mati satu tumbuh seribu. Kartini mungkin sudah tiada, namun semangat juangnya tidak boleh padam begitu saja. Maju terus para Kartini muda. “Selamat hari Kartini”.
atau bisa saja sobat berkunjung ke Rembang lihat-lihat koleksi Musium Kartini sekalian Ziarah ke Makam RA. Kartini, (Promo Obyek Wisata Rembang soale admine wong Rembang je..He...he..)

Senin, 15 April 2013

Kesenian Pathol Sarang



Kesenian Pathol Sarang
Tradisi Peninggalan Majapahit

KESENIAN tradisional Pathol Sarang bisa dibilang menjadi salah satu kesenian tradisional khas Kabupaten Rembang yang tidak dimiliki  daerah lain. Meski tampilnya kini tidak sesering saat awal kemunculan dulu, namun Pathol Sarang hingga kini masih tetap terjaga di masyarakat, khususnya kaum nelayang di Kecamatan Sarang dan Kecamatan Kragan.

Bahkan para nelayan di sepanjang pantai utara jawa (pantura) Rembang dari ujung barat kaliori, Pacar Gegunung, Rembang, Lasem, Bonang, Pandangan, sampai Kragan dan Sarang di ujung timur, sudah sangat mengenalnya.

Disebut Pathol Sarang , karena seni gulat tradisional ini berkembang awalnya dari (kaum nelayan) Kecamatan Sarang. Pathol berasal dari katamathol/kepathol (tidak bisa bergerak). Para nelayan setempat kerap minta tolong temannya, saat perahunya kepathol tak bisa bergerak (terkunci) karena kandas.

Dari istilah itu, dalam pertarungan pathol dua pria berhadapan. Berusaha saling mengunci satu sama lain (lawannya). Sampai salah satu di antaranya benar-benar terkunci dan menyerah atau dinyatakan kalah.

Pengiat pathol Sugiyanto mengatakan, bentuk pertunjukannya, selain ada pemain juga ada panjak (pengrawit) untuk mengiringi para pemain pathol. Minimal dibutuhkan lima orang pengrawit yang memainkan kendang, kempul (gong kecil), lenong, bonang, terompet, dan saron.

Pertunjukannya, layaknya pertandingan gulat. Nama pathol juga ada dalam Bahasa Sansekerta yang berarti orang tak terkalahkan. “Kesenian ini lahir pada era Kerajaan Majapahit. Saat itu pangeran Sri Sawardana, adik penguasa Lasem Bhree Lasem (Dewi Hindu), berniat membentuk prajurit angkatan laut untuk mengamankan pelabuhan di Tuban, Jawa Timur,” ungkapnya.

Para “pelamar” kemudian diadu untuk mencari siapa yang paling kuat melalui pertandingan semacam gulat. Pemain dilarang memukul, menendang, atau menyikut. Mereka saling memegang udhet atau kain sepanjang 1,5 meter milik lawan yang diikat di masing-masing perut pemain.
Mereka kemudian berusaha saling membanting lawannya. Tradisi ini bertahan hingga penjajahan dan pasca kemerdekaan. Namun dalam perkembangannya, pathol tak lagi digunakan untuk mencari prajurit. Namun bergeser untuk ajang perjudian. Hingga tak jarang istri para pemain pathol yang dijadikan barang taruhan. “Karena sudah jauh menyimpang, para tokoh masyarakat akhirnya menghapus taruhan. Uang taruhan diganti hadiah yang nilainya sudah ditentukan panitia,” terangnya. (Radar Kudus-14-04-2013)

Kamis, 28 Juni 2012

Asal Usul Kabupaten Rembang


Asal Usul Nama Rembang
Legenda Rakyat Dari Kabupaten Rembang
Pengantar
Jangkar Kapal Dampo Awang di Dampo Awang Beach (Pantai Kartini)
Sebelum Penulis sampaikan cerita ini perlu pembaca pahami bahwa legenda dari Rembang ini memiliki beberapa versi namun penulis berusaha memberikan cerita yang memiliki garis besar yang sama berdasarkan cerita turun-temurun yang penulis ketahui.
Jawa sebagai pusat perdagangan pada abad 13-15 mempunyai beberapa pelabuhan besar diantaranya, Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Cirebon, Pelabuhan Semarang, Pelabuhan Lasem, Pelabuhan Tuban, serta Pelabuhan Surabaya. Pelabuhan-pelabuhan tersebut sudah banyak dikenal oleh orang asing maka tak mengherankan banyak bersandar kapal-kapal dagang asing yang igin memasarkan hasil dari negaranya atau berlabuh untuk menjalin kerjasama dengan beberapa kerajaan besar di tanah Jawa. Beberapa kapal asing itu antara lain kapal dari Tiongkok, Arab, Persia, Gujarat, dan sebagainya.
            Jawa sebagai pusat penyebaran agama Islam di tanah air terutama pada daerah pesisirnya menjadi pusat adalah Wali Songo (Wali Sembilan) yang berjasa besar dalam menyebarkan agama Islam Secara damai sehingga mudah diterima oleh penduduk Jawa Yang saat itu mayoritas beragama Hindu-Budha atau Aliran Kepercayaan. Akibat kepiawainnya megakulturasikan kebudayaan lokal dengan kebudayaan Islam, Islam sangat cepat berkembang dengan Demak sebagai pusat Kraton Islamnya bahkan Islam yang berkembang saat itu dituding menjadi penyebab utama dari kemunduran Kerajaan Majapahit, bahkan salah satu Raja terkenal Majapahit yaitu Raja Brawijaya V diyakini sudah beragama Islam, ahir abad 14 Kerajaan Besar Majapahit musnah yang ditandai dengan Chandra Sengkala (tahun Jawa kuno) “Sirno Ilang Kertaning Bhumi” atau tahun 1400M.
            Setelah kemunduran Majapahit itulah mencul kerajaan Islam pertama di Jawa yaitu kerajaan Demak yang di dukung oleh para wali. Beberapa peninggalan Majapahitpun diangkut ke Demak salah satunya Pendopo depan Majapahit yang kini di pakai di Masjid Agung Demak. Pusat Islam di Jawa meliputi wilayah Cirebon, Lasem, Tuban, Gresik dan hampir seluruh pesisir utara Jawa.
Al Kisah
Sunan Bonang dan Dampo Awang Beserta Jangkar Kapal Dampo Awang
            Sejak dulu Tiongkok atau Cina dikenal sebagai pedagang dan pelaut yang ulung para utusan kerajaan maupun para pedagangnya menyebar ke seluruh dunia. Termasuk ke Nusantara terutama untuk mencari rempah-rempah sseta memasarkan hasil kerajinannya diantaranya Emas, Kain Sutera, Keramik, Lukisan dan sebagainya.
            Dahulu kala datanglah seorang pelaut dan pedagan yang sangat tersohor yang bernama Laksamana Cheng Ho atau lebih dikenal dengan nama Zeng He namun berbeda untuk masyarakat Rembang yang menyebut dia dengan nama Dampo Awang pada tahun 1405M beserta kapal-kapal pengawalnya yang berisi prajurit kerajaan. Awalnya ia hanya seorang kasim biasa namun karena kepandaiannya ia diangkat oleh raja Zhu Di menjadi utusan kerajaan, pelaut sekaligus, seorang pedagang yang ulung. Dalam sebuah memulai kegiatan perniagaan di Rembang utamanya di sekitar Pelabuhan Lasem yang sekarang terletak di Desa Ndasun, di Lasem sendiri terdapat sungai yang cukup besar yaitu sungai Babagan yang dulu digunakan senagai jalur transportasi maka tak mengherankan di sekitar sungai Babagan berdiri perkampungan Pecinan dan Klenteng-klenteng. Cheng Ho sebagai orang asing yang melakukan kegiatan perniagaan dan tinggal sementara di Lasem boleh dibilang ia hampir menguasai perdagangan di Pesisir Rembang si kisahkan ia mempunyai kediaman sementara yang cukup besar yang di jaga ketat oleh pasukan gagah yang ia bawa dari negeri Tiongkok, awalnya masyarakat menerima Dampo Awang dengan baik karena keramahannya tapi setelah ia merasa kaya dan sukses dalam berdagang ia mennjadi sombong dan Congkak bahkan terkesan semena-mena kepada rakyat setempat.
            Berita inipun sampai ke Sunan Bonang selaku sesepuh di Lasem dan sekitarnya, Lasem yang saat itu sudah dikenal sebagai kota yang religius dengan Sunan Bonang sebagai orang yang dituakan. Karena banyak mendengarkan keluhan dari banyak warga dan santrinya Sunan Bonang pun mengunnjungi kediaman Dampo Awang yang tidak jauh dari Pelabuhan Lasem bermaksud menayakan tentang hal ini.
            Beliau datang dengan dua orang santrinya, beliau seperti biasa menggunakan sorban putih dan berpenampilan sederhana namun terlihat sangat berwibawa. Setelah menempuh perjalana dari Pondoknya di Desa Bonang ahirnya Sunan Bonang Sampailah di kediaman Dampo Awang yang sangat megah di kelilingi tembok yang tebal dan tinggi, di depan gerbang rumahnya berdiri dua penjaga yang sangat gagah tinggi besar dan terlihat membawa tameng dan tombak yang runcing.
Penjaga: “Hai siapa kalian, berani-beraninya datang ke kediaman Lakmana Agung dari  Tiongkok!”
Santri: “Kami dari Bonang  saya dan Sunan (Bonang) ingin bertemu sebentar dengan Tuanmu Dampo Awang”
Penjaga: “Hahahaha... seenaknya kalian ingin bertemu dengan Tuanku, kalian hanya rakyat jelata kalian tidak kami ijinkan!”
Santri: “hei jaga bicaramu penjaga...kalian tidak tau kalau beliau ini adalah Kyai dan Ulama’ Besar di Lasem ini..
Sunan Bonang: “sudah..sudah cukup tidak usah berseteru lagi..penjaga kalau kami tidak diijinkan masuk baiklah sampaikan sekarang juga pada Tuanmu, Sunan Bonang ingin bertemu”
Penjaga: “Baiklah..”
Kemudian salah satu penjaga menemui Dampo Awang yang nampak sibuk menghitung dan mendata beberapa hasil perniagaannya
Penjaga: “Ampun Tuanku, Ada 3 Orang ingin bertemu Tuan...salah satu nama mereka adalah Sunan Bonang”
Dampo Awang: “Sunan Bonang? (Dampo Awang terkejut) baiklah suruh mereka masuk”
Bergegas sang penjaga kembali ke gerbang rumah Dampo Awang dan mempersilahkan mereka masuk.
Dampo Awang: “Selamat datang saudaraku, lama tidak bercengkarama denganmu..silakan duduk..silahkan..dan nikmati hidangan yang ada di meja...”
Sunan Bonang: “Terimakasih Dampo Awang...bagaimana kegiatan perniagaanmu?”
Dampo Awang: “hahaha...angin barat tahun ini agaknya sedikit menghambat kegiatanku berlayar dan berdagang”
Sunan Bonag; “Tak apalah Dampo Awang kiranya Laksamana Sebesar anda sudah terbiasa dengan kondisi alam seperti ini”
Dampo Awang: “hahaha...emm sebenarnya ada apa gerangan Sunan dan santri sunan bersedia berkunjung ke kediamanku, sepertinya ada hal penting?”
Sunan Bonang: “ Saudaraku...sebelumnya saya minta maaf atas kedatanganku ini..bukan bermaksud apa-apa Cuma saya mendapat banyak keluhan dari warga Lasem tentang anda,ya tentang sikap anda kepada pedagang kecil dan penduduk sekitar”
Dampo Awang: “sikapku yang mana Sunan?”
Sunan Bonang: “Mohon maaf sekali lagi, bukan maksud saya memfitnah anda..mereka bercerita tentang sikap sombong anda serta kesewang-wenangan anda kepada pedagang kecil di sekitar Pelabuhan Lasem”
Mendengar ucapan Sunan Bonang itu Dampo Awang mulai naik pitam...ia marah dan tersinggung dengan ucapan Sunan Bonang dan Berkata
Dampo Awang: “ Sunan Bonang...aku teringgung dengan ucapanmu itu..pengawal usir mereka dari sini...”
Santri: “Dampo Awang kamu telah bersikap tidak sopan dengan sesepuh Lasem..keterlaluan kamu...ingatlah kamu hanya seorang pendatang kami bisa saja mengusirmu dari Lasem!!”
Mendengar ucapan itu Dampo Awang semakin marah besar kemudian ia berkata
Dampo Awang: “ Baiklah kalau begitu aku juga tidak pernah takut dengan kalian...hei Sunan Bonang..besok pagi datanglah bersama santri-santrimu hadapi aku dan pasukanku siapa yang paling hebat disini dan siapa yang berhak di usir dari Tanah Lasem ini!!...”
Sunan Bonang: “Aku tidak pernah menginginkan semua ini diselasaikan dengan kekerasan..tapi kalau itu maumu baiklah...”
Kemudian Sunan Bonang pulang, sore harinya ia memberitahukan kepada santri-santrinya tentang ucapan Dampa Awang, semua santri bersedia ikut berperang mengusir kesombongan Dampo Awang dan para pasukannya. (Pondok pesantren Sunan  Bonang di yakini berada di sekitar Pasujudan Sunan Bonang yang sampai sekarang banyak dikunjungi peziarah).
Di pagi yang buta tampak kapal-kapal besar dampo Awang sudah terlihat berlabuh di Pantai Bonang dekat Pondok Sunan Bonang. Ia bersama pasukan yang bersenjatakan tameng tombak dan pedang. Di pinggir pantai Sunan Bonang yang berdiri paling depan beserta santrinyapun sudah siap mengahdapi pasukan Dampo Awang. Sunan Bonang dan santrinya mengenakan pakaian putih dan mengenakan sorban putih sambil memegang tasbih seraya berdzikir kepada Tuhan.
            Dampo Awang langsung menabuh genderang perang, dan perang besarpun dimulai. Pasukan Dampo Awang dari atas kapal menembakkan peluru-peluru meriam membuat santri Sunan Bonang banyak yang meninggal. Santri-santri ahirnya berhasil naik ke atas kapal dan terjadi peperangan yang memakan banyak korban di kedua belah pihak. Di sisi lain Dampo Awang dan Sunan Bonang berhadapan saling mengandalkan ilmu kanoragannya. Pepearangan di udara antara mereka terlihat imbang karena sama-sama sakti mandra guna, Dampo Awang kembali kembali turun ke kapal besarnya sedangkan Sunan Bonang justru terbang ke atas bukit Bonang, dari atas bukit ia mengeluarkan aji-aji kanoragannya tepat mengenai kapal Dampo Awang dan hancurlah kapal yang sangat besar itu beserta isinya berhamburan terpental jauh skitar 15 km hingga ke Rembang, layarnya membatu kini menjadi Bukit Layar di desa Bonang Kecamatan Lasem, Jangkarnya yang besar terpental sampai di Pantai Kartini Rembang, tiang kapalnya menancap dekat pasujudan Sunan Bonang di desa Bonang, lambung kapalnya tengkurap yang kini menjadi Gunung Bugel (lereng Gunung Lasem) antara Lasem dan kecamatan Pancur.
            Karena dalam pertarungan itu tidak ada yang kalah dan menang ahirnya Sunan Bonang menghenntikan duel udara itu yang hingga sampai di  pesisir desa Pandean Rembang itu.
Sunan Bonang: “Dampo Awang ilmu kita sepertinya imbang, bagaimana kalau kita bertarung dengan cara lain..”
Dampo Awang: “hahahaha..Sunan Bonang mau melawan aku dengan cara apa lagi kamu?!”
Sunan Bonag: “Lihatlah Jangkar kapalmu itu, tebaklah apakah jangkar itu akan Kerem (tenggelam) atau Kemambang (terapung)?”
Dampo Awang: “hei kalau Cuma menebak seperti itu anak kecil juga bisa..jelas jangkar besi itu akan Kerem (tenggelam)”
Sunan Bonang: “kamu salah Dampo Awang jangkar itu akan Kemambang (terapung)”
Karena mereka sama-sama sakti ketika mereka mengucap Kerem jangkar itu akan tenggelam dan Kemambang jangkar itu akan terapung
Kedua Kata KEREM dan KEMAMBANG saling terucap dari mereka dan jangkarpun menjadi tenggelam dan terapung (Kerem dan Kemambang).
Ahirnya Jangkar besi besar itu Kemambang dengan demikian Sunan Bonang memenangkan pertarungan itu, maka Dampo Awang beserta pasukannya bersedia pergi dari Lasem dan pindah ke Semarang. Dalam Hati Sunan Bonang Berkata dalam Bahasa Jawa “Wewengkon kang jembar pinggir segoro nangin isih kebak alas iki tak wenehi aran REMBANG supoyo ing reja-rejaning jaman wong biso reti lan iling ono prastawa kang gedhe ing jamanku iki”. (wilayah yang luas pinggir laut namun masih berhutan lebat ini saya beri nama REMBANG agar saat peradaban mulai ramai orang bisa tau dan ingat pernah ada peristiwa yang besar di jamanku ini).
sumber :
Agung Atmadja